IQ + EQ = Jordan Hervianto

sumber: TikTok @joo

Saat melihat profilnya di pengumuman cast saya reflek nganga melihat GPA-nya yang 4.00/4.00 di jurusan Teknik Metalurgi ITB. Makin-makin lagi ketika tahu dia masuk ITB jalur SNBP dan sempat ikut seleksi Academy of Champions tapi gagal lolos menjadi peserta. Wow that's incredible, Bro. Dari wajah dan auranya (yang terlihat dan terpancar dari layar ponsel saya) saya sudah langsung merasakan ada MTK-MTK-nya gitu. Benar kan, dia anak Olimpiade MTK (lengkapnya baca aja di profilnya deh; Profil Jordan) ditambah pas saya main ke akun Instagramnya, dia ini juga eksplor ke bidang non-akademik seperti musik dan olahraga. Intinya, bukan yang hidupnya hanya MTK terus even dia se-cinta itu sama MTK (cast CoC ini didominasi sama anak MTK ya kalau dilihat-lihat, atau yang mirip-mirip gitu lah).

"Singkat aja jum'atan atau mingguan?" 

adalah komentar paling banyak dari netizen di postingannya setelah pengumuman cast. Jordan sendiri yang membalas;

 "aku mingguan" 

which is bukan muslim. But, I totally into him dalam hal melihat dia yang sangat lock in kalau memainkan game numerik dan logika di arena. Meski MTK bukan bidang yang saya minati, melihat seseorang all out dalam kesukaannya adalah hal yang menyenangkan sekaligus memotivasi. Bahagia banget melihat mereka bisa bersinar dengan keunggulannya masing-masing.

Jujur, di episode-episode awal saya tidak terlalu banyak menaruh perhatian padanya. Tapi saya tau dia ini bibit-bibit peserta top di arena sekaligus di media sosial karena termasuk yang sering live TikTok dengan champions lain dan aktif membalas komentar fans. Satu-satunya yang membuat saya merasa terkoneksi dengannya adalah karena kita sama-sama kelahiran 2007 (yeah, I feel the same tiap ngeliat ada champions lain kelahiran 2007 (termasuk Kafka dan Ayden, soon saya tulis)), haha. So, alasan tersebut itu juga membuat semangat saya menonton season kali ini berkali-kali lipat dibanding 2 season sebelumnya. 

Btw Jordan, if you read this I want to say; you did a great job! Teruslah jadi Jordan yang hangat & sweet ke semua orang, ya. Keep fight!

Saat artikel ini ditulis, CoC S3 baru sampai eps. 13 di mana salah satu momen yang paling di-highlight adalah ketika Jordan menangis tersedu-sedu melihat Kemal (CUHK) yakni peserta yang digadang-gadangkan sebagai calon juara sekaligus peserta yang konsisten berada di top 5, dan satu tim dengannya ikut tereliminasi. Dia merasa bersalah karena merasa menyia-nyiakan kepercayaan Kemal yang telah memilihnya sebagai partner tim.

"Aku sedih karena dia yang udah ngasih kepercayaan ke aku, tapi aku malah ngebawa dia ke bawah (deadmatch). Padahal kalau dia nggak sama aku dia nggak bakal keelim. Di mana banyak juga orang yang mau sama dia, tapi dia memercayai aku yang bukan siapa-siapa ini." Ujarnya di sesi wawancara. "Harusnya dia bisa lebih jauh daripada ini. Karena aku dia jadi keelim. Aku gak sedih kalau keelim sendiri, kenapa sih harus sama Kemal juga?"

Benar-benar   kalau kata penonton lain   tulusnya terasa hingga menembus layar. 

Btw in this season anak-anak ITB benar-benar se-gacor itu. For the first time saya ikut hampir semua channel WhatsApp champion dari ITB.

Emotional Quotient (EQ) is His True Secret Weapon

sumber: Clash of Champions Season 3 - Eps. 13

Hal ini sudah disadari oleh banyak penonton apalagi semenjak ada momen eliminasi peserta. Apalagi kalau ada yang terelim sesama dari ITB. Seperti waktu Nuha terelim setelah team game (jadi mereka berdua dan beberapa orang lain satu tim dan Nuha itu kaptennya). 

Setelah pengumuman, Jordan menghampiri Nuha sambil bilang; "kok lu ninggalin gua gitu, sih?" Jadi, dia merasa ditinggalin Nuha karena ia lolos tanpanya. 

What a sweetheart, sebelum ini   baik real life sekalipun   saya tidak pernah melihat persahabatan antar lelaki se-sweet dan se-words of affirmation ini. Saya harap, kontak fisik (dalam batas wajar), kalimat afirmasi dan apresiasi yang diucapkan dari laki-laki ke sesamanya tidak selalu disimpulkan ke arah yang negatif. Terlepas segala stigma laki-laki harus kuat dan gagah, buat saya selagi itu manusia; mengapreasiasi dan menunjukkan kepedulian serta empati dengan pelukan atau kalimat manis adalah hal yang kadang diperlukan.

Saat game tim pun, beberapa kali Jordan salah input jawaban padahal sudah hitung dengan benar. "Kayaknya aku butuh emotional support dari Nuha (sebagai kapten tim), deh" ujarnya di wawancara. Nuha yang sedang ada di game room lain langsung dia hampiri. Nuha tidak membantu apa-apa, hanya berdiri disamping Jordan dan melihatnya input jawaban. Lalu hasilnya benar. Kalau kata penonton lainnya; "Jordan tuh cuma butuh ada yang nemenin, bukannya dia nggak bisa" and I totally agree.

Emotional support itu modal terpenting juga buat meraih prestasi akademik yang bergengsi.

Satu momen lagi ada saat tim Jordan sudah selesai input jawaban di podiumnya tapi peserta dari ITB di podium sebelahnya belum. Saat situasi semakin menekan dan kritis, di tengah kesibukan anggota tim menyelematkan diri masing-masing Jordan menyempatkan diri mengingatkan peserta yang se-kampus untuk kembali mengerjakan soalnya. Buat saya, kepedulian kecil seperti itu bukanlah hal kecil, dan itu  tidak bisa dibuat-buat apalagi di situasi genting. 

Kemampuan untuk berempati dalam sebuah kompetisi dengan tuntutan tinggi, berisi anak-anak berprestasi nasional dna internasional dan bergengsi bukanlah hal yang sederhana. Seringkali dalam hal ini, bukannya seorang peserta tidak ingin peduli dengan orang lain, tapi batasan waktu yang ditetapkan dalam mengerjakan soal atau sebuah game dengan soal yang tingkat kesulitannya tinggi membuat hampir semua energi terkuras untuk memecahkan soal. Saya yakin, anak-anak pintar di acara seperti CoC yang kadangkala terlihat dingin, jarang berekspresi atau tertawa serta bermain dengan peserta lain bukan berarti sifat aslinya demikian. Personality di arena dan media sosial atau teman sebaya pasti berbeda karena tekanan dan ekspektasinya berbeda. 

Jadi, kondisi Jordan di beberapa episode yang kadangkala mellow dengan cast lain, ikut menghibur ketika salah satu cast tereliminasi dan bagaimana dia menjadi sosok suportif yang terang-terangan dengan words of affirmation-nya kepada peserta lain bisa jadi adalah cara dia meyakinkan diri untuk lebih percaya diri di arena melawan peserta lain yang lebih "monster". Positive vibes itu bisa se-berpengaruh itu untuk orang-orang yang sensitif atau rentan stres dan cemas di kompetisi dengan tingkat ekspektasi yang tinggi seperti CoC ini. 

Saya pribadi kalau jadi peserta lain dan disemangati olehnya seperti itu; baik menang atau kalah, tereliminasi atau lanjut, perjalanan di CoC akan menjadi kenangan yang indah diingat. Jadi, pertemanan tidak hanya ketika shooting, tapi juga bisa sampai kapanpun meski jarak dan waktu memisahkan. 

So, dari sini dapat diambil pelajaran bahwa menjadi pintar dan berintelek tinggi tidak harus selalu berkutat dengan hasil nilai dan berapa medali yang didapat. Kecerdasan emosional, yakni kemampuan berempati dan menyemangati di situasi bertekanan tinggi juga mencerminkan sosok yang cerdas and gladly Jordan punya keduanya. Sukses selalu buat Jordan di ITB dan kedepannya! Semoga IPK 4.00/4.00 itu tetap bertahan di semester-semester selanjutnya dan jangan lupa untuk selalu bahagia, ya!

Komentar

Paling Banyak Diminati