Bukan Cuma Pakai AI, Saatnya Kita Cetak Talenta AI untuk Tenaga Kerja & Generasi Emas
![]() |
| sumber: dokumentasi pribadi |
Sedikit sharing notes dari salah satu konferensi di Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Senayan pada 5-6 Agustus 2026 oleh Hammam Rizal, seorang guru besar AI di Universitas Syiah Kuala (USK).
Inovasi dalam teknologi dan AI yang menjadi tema utama pameran ini bertujuan bukan hanya untuk berjualan produk dari tiap merk/brand yang ada, tapi juga mengenalkan sembari menunjukkan pada kita pengunjung & pemerhati teknologi dan perkembangan AI bahwa dengan segala inovasi yang telah ada dan diupayakan, menjadi sukses dan mencapai cita-cita besar bukan suatu kemustahilan. Selain tuntutan efisiensi dalam membuat suatu produk, teknologi juga didorong berkembang cepat untuk memudahkan aktivitas manusia yang sepele seperti; merangkum catatan meeting kantor, membuat kesimpulan dan blueprint dari kesimpulan hasil rapat, dan membantu membuat PPT/slide guna presentasi kepada klien serta mendukung tenaga kerja menjadi lebih handal dan tangkas.
Pengembangan teknologi AI terdiri dari tiga lapisan utama yang saling melengkapi: Infrastruktur sebagai pondasi dasar seperti jalan raya dan listrik yang menyediakan daya komputasi (restoran yang sudah menyediakan menu dan kita bisa pilih); System APIs sebagai jembatan aman yang menghubungkan data pemerintah dengan dunia bisnis untuk menghasilkan nilai dan pendapatan (pelayan restoran yang membantu membawakan pesanan yang sudah kita minta sebagai pelanggan); serta Aplikasi sebagai etalase depan berbentuk layanan atau asisten AI yang langsung dipakai dan dirasakan manfaat nyatanya oleh masyarakat (menu yang kita nikmati sesuai pesanan kita).
Kehadiran AI (Artificial Intelligence) tidak cukup ditinjau dari fungsinya membantu digitalisasi pekerjaan menjadi lebih mudah. Semakin ke sini, perkembangannya yang pesat menjadi tugas dan hal yang perlu diperhatikan oleh para pengembangnya sendiri. Mulai dari rekapitulasi efektivitasnya, dampak kehadirannya ke bidang lainnya, se-menjanjikan apa prospek ini di masa depan, hingga hal yang nampak sepele tapi krusial; penggunanya. Apapun itu, AI tetaplah alat yang butuh seseorang yang mengoperasi dan meninjau kerjanya sepanjang waktu. Maka, keberhasilan dan keefektifannya tergantung seberapa lihai dan apik orang yang mengoperasikannya.
Dengan ini, diharapkannya dapat mendukung tujuan mulia untuk menciptakan tenaga kerja yang lebih baik di masa depan hingga mencapai generasi Emas 2045. Sembari peneliti mengembangkan AI, jangan sampai ada kesenjangan antara kecanggihan teknologi dan AI dengan para penggunanya. Karena pengetahuan mendalam dan teknik prompting yang tepat dapat menghasilkan output produk yang tidak hanya efisien dan tepat, tapi juga pola pikir yang tidak hanya bergantung sepenuhnya dengan AI dan berusaha berkembang dengan segala kesempatan yang ada.


Komentar
Posting Komentar