How Azka Adziman Encourages Me to Become a Friendlier Person

 

sumber: Clash of Champions Season 3 - Eps. 13 Azka meluk Jordan merasa bersalah karena Kemal sebagai teman se-timnya tereliminasi

Saya suka berbagi.

Berbagi kebahagiaan, pelajaran dari pengalaman buruk yang dialami, kesan luar biasa dari hal-hal kecil yang saya sadari, penyesalan yang saya ingin orang lain tak melakukan hal yang sama, sikap-sikap kecil dari orang asing yang saya amat terkesan dengannya hingga itu benar-benar masuk ke hati dan berbekas seumur hidup. Banyak hal. Meski saya bukan orang yang berwajah mudah didekati atau asik dengan semua topik obrolan. 

Saya suka berbagi.

Perasaan ketika saya tercerahkan dengan celetukan seseorang, ketika kepedulian kecil dari orang lain membuat hidup saya berubah jauh lebih baik secara drastis, ketika itu semua menyadarkan saya bahwa masih ada kesempatan untuk meraih hal-hal & impian yang sudah saya kubur perlahan karena merasa tak akan ada waktu yang cukup, ketika sedikit senyum pada lawan bicara dan apresiasi darinya membuat saya sedikit yakin bahwa kesempatan untuk bersosial masih ada   kebahagiaan yang demikian adalah salah satu faktor utama yang membuat saya tetap semangat dan bergairah menjalani hidup dengan segala ketidakpastian yang ada. 

Saya suka berbagi.

Tapi fase hidup yang naik-turun menggembleng diri saya. Segala upaya yang telah dilakukan banyak pula yang tidak menghasilkan hasil yang diinginkan   kesenangan untuk berbagi itu tak jarang menjadi senjata makan tuan. Ketika niat baik untuk berbagi dan mendapatkan insight tersebut seringkali disalahpahami atau tersampaikan dengan cara yang kurang tepat. Sehingga menghasilkan ketidaksukaan dan ketidaknyamanan lawan bicara yang tidak bisa saya kendalikan. Titik terendahnya adalah ketika saya jadi hopeless person dan harus merelakan beberapa orang yang terdampak hal demikian. 

Bukan selalu karena:

saya salah-mereka terlalu baper. 

Atau saya terlalu semangat-merekanya tidak bisa memahami, atau

saya terlalu membingungkan-mereka punya topik kesukaan sendiri untuk dibagikan,

atau hal lainnya. 

Tapi perlahan keberanian dan keluwesan saya perlahan tergerus dengan pengalaman tidak menyenangkan/penolakan yang tidak bisa selalu ditangani dengan baik di situasi berikutnya. Dan itu bukan selalu salah siapapun; mereka yang jadi lawan bicara saya dalam hal berbagi ini, atau saya, atau orang tua, atau saudara kandung, atau saudara sepupu. Siapapun.

Ada kalanya memang takdir hanya mengizinkan saya sampai sana. Bukan menjadi orang terdekat untuk selalu berbagi keluh-kesah dan kebahagiaan. Bukan selalu mendapatkan apa yang saya berikan kepada orang lain. Bukan yang chemistry-nya awet meski jarak memisahkan (I think it's normal to lost chemistry ketika udah jarang ketemu atau komunikasi even dulunya kita se-dynamic duo itu sama orang ini). Segala upaya sudah saya kerahkan, tapi ketika memang orang tersebut tidak bersedia kembali exited atau membalas hal yang sama kepada saya, maka di saat itu saya akan mundur.

Lalu mengingat semua itu sebagai kenangan baik yang akan menguatkan diri saat terpuruk.

But, I Found a Lot of Struggle 

Banyak kesempatan baik yang saya lewatkan karena beberapa pengalaman tidak menyenangkan tentang bersosial. Inilah hambatan terbesar saya. Ketakutan itu terus membesar meski tak selalu se-membebani itu. Hingga akhirnya saya bertemu (meski secara online dan belum secara langsung (soon yaa)) dengan sosok yang relate serta menunjukkan kepada saya bahwa menyapa duluan itu bisa se-menyenangkan itu, exited duluan dan banyak bertanya tidak se-mengganggu itu. Bahwa setelah segala ketakutan dan kekhawatiran dalam bersosial, selalu ada titik cerah untuk lebih baik dan luwes daripada sebelumnya. He is Azka Adziman.

How Azka Encouraged and Impressed Me with His Friendly Personality and Behaviour

sumber: Channel WhatsApp Azka tersentuh banget liat typing laki-laki se-Words of Affirmation ini

Jujur aja saya nonton Clash of Champions Season 3 baru di eps 2 dan awalnya karena ada Evan (NUS) dan Fansen (MIT), saya fans berat sejak AoC, hehe. Tapi, pas bagian jawab soal I find interesting and that attractiveness di cara dan gerak-gerik Azka (Oxford). Then I decided to follow his Instagram account which is baru 200-an followers waktu itu. 

Dari situ-lah saya mendapatkan spark kembali tentang kegiatan 'berbagi' dan 'bersosial' seperti dulu. Di Instagram, TikTok, dan Threads (and I hope he'll use X for space with Azkies, hehe) kegiatannya terpublikasi secara real-time dengan interaksi yang sangat intens ke followers/fans-nya/fans champion lainnya. Terutama di Threads dan live TikTok. Bagaimana dia memperlakukan semua champion (bahkan yang di season 1 dan 2) dengan ramah, membuat mereka nyaman berkali-kali membuat saya speechless. Bagaimana dia membuat Azkies merasa ter-notice (dan SAYA UDAH DI-NOTICE 3X, hehe. Tysm, Azkaaa), bagaimana dia sangat luwes dan tidak merasa canggung atau takut untuk memulai pembicaraan dan melibatkan semua champion dengan segala perbedaan latar belakang dan kepribadian yang ada membuat saya agak jet lag karena sejenak ini terasa to good to be true. 

Sejenak itu semua terasa to good to be true. 

Karena kejadian seperti sejauh ini hanya ada di khayalan dan bayangan saya aja. Bahkan, ketika ada beberapa orang yang mirip-mirip sikapnya seperti itu atau saya sendiri berusaha lebih ramah dan terbuka tak jarang di-judge caper, centil, murahan, genit, modus, dan lainnya. So, porsi ketakutan dan ke-khawatiran menjadi friendly berdasarkan pengalaman saya tersebut jauh lebih mendominasi daripada keberaniannya. 

Tapi untuk kali ini saya merasa itu semua tidak mustahil lagi. Saya bersyukur mendapatkan perasaan seperti ini, dan keberanian untuk kembali menjadi friendly dan humble perlahan mulai naik dan berani saya praktekkan ke orang-orang asing di setiap kesempatan yang ada.

Di satu live Azka pernah ditanya bagaimana dia bisa melakukan hal demikian, bagaimana dia bisa tidak merasa canggung dan takut. Terlepas kepribadiannya yang sangat extrovert, dia hanya menjawab;

"basically aku suka ngobrol aja"

Ngobrol it means berbagi. Berbagi pengalaman, cerita sepele atau inspirasi dari pengalaman hidup. Persis seperti pandangan saya sendiri.

"caranya gampang, ya tinggal ngobrol aja. Nanya yang sepele; cuaca, hobi, pengalaman atau tempat yang lagi kalian datengin bareng. Sesuai kondisi aja. Liat lawan bicara kita gimana. But seringnya it works sih." Jawab dia lagi di live TikTok lainnya.

And spark dari orang yang beneran tulus ngajak ngobrol dan sok asik/ada niat terselubung itu berbeda. Kita sebagai lawan bicara akan mengerti perlahan ketika ada yang mengajak kita ngobrol di tempat umum. Ketika saya mulai melakukan hal-hal tersebut dengan niat murni tanpa modus/membuat lawan bicara risih; it works. Bahkan ke lawan jenis. 

Sebagai perempuan, apalagi muslimah, ditambah mondok di pesantren selama 6 tahun ketakutan dan kekhawatiran bersosial di kehidupan setelah mondok ini lebih kompleks daripada yang dibayangkan. Di saat yang sama saya bukan tak tertarik pada laki-laki apalagi anti, hanya saja banyak pengalaman tidak menyenangkan yang mendominasi. Pengalaman lancar dan baik terkait hal itu ada, tapi hanya beberapa dan seringkali tidak memberikan keberanian yang cukup untuk saya praktekkan di keseharian.

Kalimat: "kamu itu santri" terkadang menjadi beban berat di hati saya. Di saat yang sama saya ingin lebih membumi dan tidak se-berjarak itu oleh lawan jenis dengan identitas ini. Saya mengerti dengan segala konsekuensi memilih jalan menjadi santri ya seperti ini, tapi sebagai makhluk sosial apalagi saya memiliki rasa penasaran yang tinggi dengan banyak hal, melewatkan kesempatan untuk menambah relasi dan membuka peluang untuk potensi saya karena gagu bersosial benar-benar menyiksa. 

Azka menunjukkan kepada saya bahwa tidak apa-apa. Kita sebagai manusia juga tidak sempurna. Dia sendiri bilang; "aku juga manusia yang bisa salah, so kalau salah ya minta maaf dan perbaikin. Tapi tetep lanjut ngobrol aja. Buat nyaman aja." 

sumber: Channel WhatsApp Azka

So, terkadang yang kita butuhkan itu contoh nyata dari hal-hal yang kita anggap mustahil. And I hope Azka selalu seperti itu dan lebih baik ke depannya; menyebarkan happy virus dan isnpirasi bukan hanya dari dirinya, tapi juga ayah-bundanya dan keluarga CoC lainnya. I'm so grateful you're here with me through this struggle, AZ. Buang keburukan atau hal-hal yang mungkin agak berat kita contoh dari Azka (kan gak mungkin se-plek-ketiplek itu ya soalnya tiap manusia berbeda) dan ambil yang baik serta bermanfaat. Seperti slogan yang Azka buat; Kita berjuang bersama!

Idk whether he'll read this article or not, but I just want to appreciate him. Thank you for all the spark you brought, Brother. May Allah bless you and grant you protection in this life and the next!

Komentar

Paling Banyak Diminati