Nulis di Medsos = Tidak Ada Someone to Talk?
Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Coba kita lihat tarik ke titik awalnya, sebenarnya semua tindakan kita termasuk menulis di media sosial tersebut adalah sesuatu yang bisa kita kendalikan. Kita bisa memilih untuk menulis atau tidak, kalaupun menulis kita bisa pilih untuk mempublikasinya atau keep private saja. Perkembangan fitur di media sosial membuat kita lebih leluasa untuk meraba-raba di mana privasi kita ingin diletakkan. Terlepas kita memang tidak bisa mengatur bagaimana reaksi dan anggapan orang-orang terkait apa yang ktai posting dan bagikan, setidaknya kendali yang kita miliki membuat pergerakan kita dalam menyalurkan kebutuhan mengeluarkan isi kepala jadi bisa tersalurkan dengan baik dan benar.
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa berkomunikasi, mengobrol, dan mengeluarkan isi pikiran itu adalah kebutuhan dasar seorang manusia untuk bertahan hidup. Ini bukan masalah introvert-extrovert, yang namanya manusia normal ya pasti perlu mengeluarkan uneg-uneg atau pemikiran dalam otaknya. Salah satu caranya dan termasuk cara yang paling instan dan mudah untuk dilakukan di tengah dunia modern yang makin individualis adalah menulis di media sosial seperti Threads, X, dan sejenisnya. Menulis di sini lebih ke nulis asbun sebenernya. Bukan menulis yang serius disertai referensi atau dengan susunan kata yang baku dan sesuai SPOK.
Jadi, terkait apakah seseorang itu tidak ada someone to talk dalam interaksi dan apa yang diposting di media sosial itu bisa terlihat dari gaya berbahasanya dalam me-reply postingan orang dan konten apa yang dia bagikan. Hal ini cukup kompleks dan tidak bisa kita langsung judge bahwa orang ini caper, orang ini lagi kesepian. Karena banyak sekali konteks dipostingnya sesuatu tidak hanya berkutat di situ.
Saya pribadi biasanya memosting sesuatu karena merasa hal tersebut layak dibagikan ulang (dan definisi "layak" di setiap orang juga beda-beda, ya), atau saya ingin orang lain tahu dan lihat betapa kerennya atau lucunya konten ini, atau karena saya merasa relate dengan kontennya itu. Kadang kala juga karena saya tiba-tiba merasa nostalgia karena suatu konten di postingan atau akun seseorang jadi saya reshare. Atau tak jarang juga saya lagi brainstorming dengan menerima segala asupan dari algoritma media sosial, atau saya pernah juga ingin mencoba rasanya jadi orang yang sedikit-sedikit memosting apa yang ia lihat di FYP-nya (tentu konten-kontennya yang sudah disaring dan tidak ada unsur-unsur SARA).
So, bisa dilihat dan diraba-raba, kan? Betapa banyaknya motif dan faktor yang mendorong seseorang memosting dan menulis sesuatu di media sosial. Algoritma terlalu cepat bergerak dan memuat banyak informasi, jadi sebenarnya
kita juga tidak diharuskan untuk selalu menilai postingan sebuah orang secara kritis dan serius.
Tapi, tak jarang saya menemukan akun yang isi reply-annya tuh meng-hujat postingan dan tulisan yang diposting orang lain. Bahkan saya juga pernah diberlakukan hal serupa. Di titik ini, seringkali saya merasa "sumpah ni orang kenapa singit banget deh? Ngajak ribut banget dengan me-mlintir-kan semua hal yang ditulis di sini". Terlepas argumen atau pemikiran dalam sebuah postingan benar atau tidak, buat saya sikap yang jor-jor-an atau menyerang terus-menerus dengan bahasa yang kasar dan judgemental bukan hal yang baik.
Nah, kalau kondisinya seperti itu; kali aja/mungkin itu orang memang sedang frustrasi, stres, dan tidak ada someone to talk jadinya menjadikan orang lain "tempat sampah emosional".
Di situasi nyata, saya juga tak jarang jadi tempat sampah emosional orang. Jadi, beberapa pengalaman yang pernah terjadi memberikan saya pelajaran bahwa kita benar-benar harus memegang kendali dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain dengan tidak banyak menggubris hal demikian. Toh, gampang aja; tinggal refresh halaman dan carilah hal-hal dan konten yang baik. Media sosial adalah wadah yang besar dan rumit untuk kita ulik dan pahami satu persatu. Waktu kita masih banyak lebih layak digunakan untuk hal lain.
Yang jelas, ketika menerima reply-an atau komentar yang menyerang, selain tidak langsung men-cap seseorang itu tidak ada someone to talk, ke depannya teruslah sebar dan bagikan konten yang baik dan ber-positive vibes. Karena media sosial dibentuk bukan untuk menyebarkan kebencian, tapi menjadi jembatan untuk menyampaikan berita dan konten baik dan bermanfaat tanpa terhalang tembok geografis dan perbedaan domisili.

Komentar
Posting Komentar