Break The Barriers: Mengejar Ketertinggalan di antara Mereka Yang Terlahir untuk Menang

Ada orang-orang yang sejak awal terlihat seperti ditakdirkan untuk menang.

Gerakannya cepat. Bakatnya menonjol. Sekali mencoba, ia sudah mampu melakukan sesuatu yang bagi orang lain membutuhkan bertahun-tahun latihan. Seolah-olah dunia memang sengaja memberikan jalan yang lebih lapang kepada mereka.

Lalu ada orang-orang yang harus memulai dengan jauh lebih sederhana. Tidak memiliki bakat yang menonjol. Tidak selalu menjadi yang tercepat. Tidak pula menjadi orang yang pertama kali dilirik ketika sebuah kesempatan datang.

Hanya punya satu hal:

kemauan untuk terus mengerjakan apa yang dicintainya.

 Bayangkan seseorang berdiri di sebuah meja pingpong.

Di seberangnya ada lawan yang jauh lebih cepat, lebih terampil, dan lebih berpengalaman. Setiap bola yang datang terasa seperti pengingat bahwa dirinya belum cukup baik.

Tetapi ia tetap mengangkat betnya.

Satu bola dikembalikan.

Lalu bola berikutnya.

Kadang berhasil.

Kadang meleset.

Kadang kalah telak.

Namun setiap kali bola datang, ia kembali mengambil posisi.

Bukan karena ia yakin akan selalu menang. Melainkan karena ia belum selesai berjuang.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, kehidupan kita juga seperti meja pingpong itu.

Kita terus menerima bola yang datang dari kehidupan: kegagalan, penolakan, keterlambatan, rasa minder, kehilangan kesempatan, dan berbagai hal yang tidak pernah kita rencanakan.

Pertanyaannya bukan selalu apakah kita akan menang.

Kadang pertanyaannya hanya:

Apakah kita masih mau mengembalikan bola berikutnya?

Tidak Berbakat Bukan Berarti Tidak Bisa

Ada kalanya kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa sesuatu bukan untuk kita hanya karena kita tidak langsung pandai melakukannya. Baru belajar sebentar, sudah merasa tertinggal. Melihat orang lain lebih cepat menguasai sesuatu, lalu mulai bertanya:

"Mungkin aku memang tidak berbakat."

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi terkadang, kalimat sederhana itulah yang membuat seseorang berhenti sebelum benar-benar mengetahui seberapa jauh dirinya sebenarnya mampu berkembang. Padahal, tidak semua perjalanan harus dimulai dengan bakat. Ada orang yang memulai dengan kemampuan luar biasa. Ada pula yang memulai hanya dengan rasa suka. Dan ada yang memulai dengan tidak memiliki apa-apa selain keinginan untuk mencoba. Yang membedakan mereka bukan selalu titik awalnya.

Melainkan seberapa lama mereka bersedia berjalan setelah menyadari bahwa perjalanan itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan. Bakat memang bisa membuat seseorang melangkah lebih cepat. Tetapi kecintaan terhadap sesuatu dapat membuat seseorang bertahan lebih lama. Dan terkadang, yang kita butuhkan bukan kemampuan untuk berlari paling cepat. Kita hanya perlu menjadi orang yang tidak berhenti berjalan.

Yang Membuat Seseorang Kuat Bukan Karena Ia Tidak Pernah Jatuh

Keteguhan bukan berarti seseorang tidak pernah kecewa. Tahan banting bukan berarti seseorang tidak pernah lelah. Dan menjadi kuat bukan berarti seseorang selalu yakin bahwa dirinya akan berhasil. Justru keteguhan sering kali terlihat ketika seseorang tetap memilih melanjutkan perjalanan meskipun ia sendiri sedang meragukan kemampuannya.

Satu latihan.

Satu kesalahan.

Satu evaluasi.

Satu kegagalan.

Lalu mencoba lagi.

Begitulah manusia bertumbuh.

Bukan dalam satu lompatan besar, melainkan melalui begitu banyak langkah kecil yang sering kali bahkan tidak disaksikan siapa pun.

Ada usaha yang tidak mendapatkan tepuk tangan. Ada perjuangan yang tidak diketahui orang lain. Ada malam-malam ketika seseorang hanya mampu berkata kepada dirinya sendiri:

"Aku belum berhasil. Tapi aku belum selesai."

Mungkin tidak terdengar heroik. Tetapi justru di situlah ketahanan dibentuk. Kemenangan memang terlihat. Namun ketekunan yang mengantarkan seseorang menuju kemenangan sering kali berlangsung dalam kesunyian.

Islam Tidak Mengajarkan Kita Menunggu Keajaiban Tanpa Berusaha

Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk hanya duduk menunggu takdir.

Allah berfirman:

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” 
(QS. An-Najm: 39)

Ada sesuatu yang begitu sederhana sekaligus dalam dari ayat tersebut. Manusia memiliki bagian yang harus dikerjakan. Kita tidak mengetahui hasil akhirnya. Kita tidak tahu apakah usaha yang kita lakukan hari ini akan membawa kita kepada apa yang kita inginkan. Tetapi ketidaktahuan tentang hasil bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar.

Sebab kita mungkin tidak memiliki kendali atas hasil. Namun kita masih memiliki kendali atas usaha. Kita tidak bisa menentukan seberapa cepat orang lain berkembang. Kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi lawan kita. Kita tidak bisa menjamin bahwa setiap latihan akan berakhir dengan kemenangan.

Tetapi kita bisa memilih untuk tetap belajar. Tetap berdoa. Tetap berusaha. Tetap memperbaiki diri.

Kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Itulah tawakal.

Bukan berhenti berusaha karena percaya kepada takdir. Melainkan berusaha sebaik mungkin sambil menyadari bahwa hasil akhirnya tetap berada di tangan Allah.

Jangan Minder Hanya Karena Orang Lain Lebih Cepat

Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dalam hidup adalah melihat orang lain berlari ketika kita merasa masih belajar berjalan.

Ia lebih pintar.

Lebih terampil.

Lebih berpengalaman.

Lebih berprestasi.

Lebih dulu sampai.

Lalu tanpa sadar, keberhasilan orang lain kita jadikan ukuran untuk menghukum diri sendiri.

"Kenapa aku belum seperti dia?"

Padahal, kita lupa bahwa Allah tidak memberikan setiap manusia garis start yang sama. Setiap orang membawa bekal yang berbeda.

Ada yang diberi bakat. Ada yang diberi kesempatan. Ada yang diberi lingkungan yang mendukung. Ada yang harus berjuang berkali-kali lebih keras hanya untuk mencapai tempat yang bagi orang lain terasa biasa.

Dan itu bukan berarti Allah sedang tidak adil. Sebab nilai manusia tidak ditentukan hanya dari seberapa cepat ia sampai. Yang jauh lebih penting adalah apa yang ia lakukan dengan apa yang telah Allah titipkan kepadanya.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan:

"Mengapa aku tidak sehebat dia?"

Melainkan:

"Apa yang bisa aku lakukan dengan apa yang Allah berikan kepadaku hari ini?"

Kalau hari ini kemampuan kita baru sedikit, kerjakan yang sedikit itu. Kalau hari ini baru mampu memahami satu halaman, pahami satu halaman itu. Kalau baru mampu memperbaiki satu kesalahan, perbaiki satu kesalahan itu. Sebab sesuatu yang kecil tetapi dilakukan terus-menerus dapat membawa seseorang jauh lebih dekat daripada sesuatu yang besar tetapi hanya dilakukan sesekali.

Istiqamah Lebih Sunyi daripada Motivasi

Motivasi sering datang seperti api. Menyala besar. Membuat kita merasa sanggup melakukan apa pun. Tetapi api juga bisa padam.

Istiqamah berbeda. Ia lebih sunyi. Tidak selalu terasa menggebu-gebu. Kadang hanya berbentuk keputusan kecil:

"Hari ini aku tetap mengerjakannya."

Besok:

"Aku coba lagi."

Lusa:

"Aku masih belum bisa, tapi aku akan belajar lagi."

Begitu seterusnya.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.

Ada pelajaran besar di sana. Bahwa kebermaknaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang spektakuler. Kadang ia lahir dari sesuatu yang sederhana, tetapi dilakukan berkali-kali.

Satu halaman yang dibaca setiap hari.

Satu konsep yang dipahami perlahan.

Satu kesalahan yang diperbaiki.

Satu doa yang terus dipanjatkan.

Satu usaha yang tidak ditinggalkan.

Mungkin tidak terlihat mengesankan hari ini. Tetapi beberapa tahun kemudian, kita mungkin menoleh ke belakang dan menyadari:

ternyata semua yang kecil itu sedang membentuk seseorang yang sama sekali berbeda.

Bakat Bisa Membuka Pintu, Tetapi Ketekunan Membuat Kita Bertahan

Bakat memang berharga. Tidak perlu berpura-pura bahwa bakat tidak penting. Ada orang yang memang diberi kemampuan lebih dalam bidang tertentu. Dan itu adalah karunia yang patut disyukuri. Namun bakat bukan satu-satunya jalan menuju keberhasilan. Sebab bakat tanpa ketekunan bisa berhenti berkembang. Sementara seseorang yang terus belajar dapat melampaui batas yang dahulu ia kira tidak mungkin dilewati. Karena itu, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk mencari tahu apakah kita berbakat atau tidak.

Mungkin yang lebih penting adalah mencari tahu:

Seberapa besar kita bersedia mengerjakan sesuatu yang kita cintai?

Karena ketika kecintaan bertemu dengan disiplin, sesuatu yang awalnya kecil dapat tumbuh menjadi kemampuan. Ketika usaha bertemu dengan kesabaran, kegagalan dapat berubah menjadi pengalaman. Dan ketika ikhtiar bertemu dengan tawakal, seseorang belajar bahwa hidup tidak selalu harus dikendalikan agar bisa dijalani dengan tenang.

Allah Tidak Meminta Kita Menjadi Orang Lain

Ada sesuatu yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang kesuksesan.

Kita terlalu sibuk bertanya bagaimana menjadi seperti orang lain sampai lupa bertanya bagaimana menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Kita melihat seseorang yang sudah sampai. Lalu merasa perjalanan kita terlalu lambat. Kita melihat seseorang yang sangat berbakat. Lalu merasa kemampuan kita terlalu kecil. Kita melihat seseorang mendapatkan apa yang kita inginkan. Lalu menganggap hidup kita tertinggal.

Padahal mungkin kita memang tidak sedang berada di perlombaan yang sama. Allah memberikan setiap manusia jalan yang berbeda. Ada perjalanan yang panjang. Ada yang berliku. Ada yang penuh pintu tertutup. Ada pula yang jalannya terasa begitu lapang. Dan kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dipersiapkan Allah di balik jalan yang kita keluhkan hari ini.

Maka jangan jadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk membenci perjalanan sendiri. Mungkin seseorang sudah sampai lebih dulu. Tidak apa-apa. Mungkin kita masih jauh di belakang. Tidak apa-apa. Selama kita masih berjalan. Sebab keterlambatan bukan berarti kegagalan.

Dan perjalanan yang panjang bukan berarti perjalanan yang sia-sia.

Pada Akhirnya, Bukan Tentang Seberapa Berbakat Kita

Mungkin kehidupan memang tidak pernah menjanjikan bahwa orang yang paling keras berusaha akan selalu menjadi pemenang.

Ada kalanya kita sudah berusaha sebaik mungkin dan tetap gagal.

Ada kalanya kita sudah berdoa begitu lama dan jawabannya belum datang.

Ada kalanya kita sudah memberikan yang terbaik, tetapi orang lain tetap berada jauh di depan.

Dan itu menyakitkan.

Tetapi mungkin di situlah iman mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh sekadar motivasi:

hasil bukan satu-satunya ukuran dari sebuah perjuangan.

Tugas kita adalah berikhtiar. Tugas kita adalah menjaga niat. Tugas kita adalah terus memperbaiki diri. Tugas kita adalah bersabar ketika hasil belum terlihat. 

Sedangkan bagaimana Allah menulis akhir dari semuanya adalah bagian yang tidak perlu kita kuasai.

Mungkin kita tidak membutuhkan bakat yang luar biasa untuk memulai. Kita hanya membutuhkan keberanian untuk mencoba. Kita tidak membutuhkan kemampuan sempurna untuk bertahan. Kita hanya membutuhkan kemauan untuk belajar. Kita tidak membutuhkan kepastian akan menang untuk terus berjalan. Kita hanya membutuhkan keyakinan bahwa Allah melihat setiap usaha yang bahkan tidak dilihat manusia.

Jadi, ketika suatu hari kehidupan kembali melemparkan bola ke arah kita, mungkin kita tidak perlu bertanya apakah kita cukup hebat untuk mengembalikannya.

Angkat saja betnya.

Coba lagi.

Kalau meleset, belajar.

Kalau kalah, evaluasi.

Kalau lelah, beristirahat.

Lalu kembali mengambil posisi.

Karena mungkin hidup memang bukan tentang siapa yang paling berbakat. Bukan tentang siapa yang paling cepat. Bukan pula tentang siapa yang paling sering menang. Mungkin hidup adalah tentang siapa yang tetap memilih untuk berusaha setelah berkali-kali diberi alasan untuk menyerah. Dan pada akhirnya, barangkali kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain.

Melainkan ketika kita berhasil mengalahkan satu hal yang paling sering membuat kita berhenti:

keyakinan bahwa kita tidak akan pernah mampu.


Oleh: anonim (G)
diterbitkan dengan izin dari penulis

Komentar

  1. Thank you so much for one of my reader yang udah ngirim tulisannya secara khusus minta untuk diterbitkan di sini. Sukses selalu, jangan lupa rewatch drama Ping Pong Life terus ya, haha

    BalasHapus

Posting Komentar

Paling Banyak Diminati