Lonceng Tanpa Bandul dan Jiwa yang Terperas Kering
Satu skill saya yang mulai tergerus waktu adalah; menulis dengan puitis. Tapi saya tidak suka puisi. Maksudnya, metafora dalam istilah puitis atau bahasa Indonesia yang next-level (karsa, arumia, nirmala, dkk) itu benar-benar sesuatu yang menggugah selera afirmasi saya dalam berkata-kata untuk deskripsi perasaan yang saya alami.
Mungkin karena bacaan buku saya tidak sebanyak dulu. Yeah you know, academic pressure bring me here, so yeah I just survive in this path btw. Tapi okelah, tidak ada yang buruk selagi tidak melanggar perintah Allah dan melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Banyak prinsip dalam diri saya yang berubah
Tapi tidak mendominasi. Ada sebuah seleksi internal yang saya lakukan dalam hal ini, terutama ketika mulai menapaki tiap fase kehidupan, menghadapi sesuatu yang tidak pernah saya sangka, atau mengambil keputusan besar yang rasanya lebih ke sebuah taruhan/gambling masa depan saya yang belum saya ketahui sama sekali, tapi saya amat yakin akan jauh lebih bersinar dari yang saya kira meski hari ini masih tertatih.
Berdasarkan judul; sebenernya jiwa saya nggak kering-kering amat. Lebih ke.. pengen eksplor judul baru aja, haha.
Tapi, gap year tapi sekarang udah jadi pre-campus life deng, soalnya aku udah fix akan kuliah, alhamdulillah life setahun belakangan benar-benar memberikan banyak perspektif dan kejadian yang di luar nalar saya. Untuk pertama kalinya saya benar-benar kewalahan, burn out, dan lepas kendali hingga rasanya cukup sulit untuk kembali ke jalan yang benar (kok kesannya kayak sebelumnya saya sesat? Tapi gak gitu maksudnya, yaa) tapi di saat yang sama semuanya berjalan baik dan hampir memenuhi target. Itu tetap saya syukuri.
Mungkin karena sudah tidak di bawah institusi yang mengikat saya dengan aturan, atau yang memasang target dan disertai lingkungan yang kondusif. Ya... itu bukan sebuah alasan untuk menjadi malas atau leyeh-leyeh terus, sih. Tapi, target besar yang terhalang formalitas intutusi banyak saya selesaikan dengan baik dan saya sangat senang dengan hal itu (apakah ini mode aliran darah businessman dari ayah yang sedang baik-naiknya? haha, bisa dibilang gitu. Saya nggak suka dikekang).
Tapi, sesuatu yang lebih kompleks perlahan mulai sadari; fase ini bukan sesederhana menjalani hidup dan menjadi mandiri.
Ini semacam menapaki skenario Allah SWT yang telah ditulis, tapi baru saya sadari setelah perenungan panjang di masa gap year. Ya.. bukan berarti pas mondok saya gak banyak merenung, cuma kondisi di rumah dan lingkungan yang saya datangi selama setahun terakhir, recall memori dan pelajaran serta nasehat, bunga tidur yang menghampiri alam bawah sadar saya lebih sering dan memainkannya lebih intens.
Kok rumit, ya? Maksudnya, saya mulai banyak mimpi yang aneh-absurd-serem-seru gitu, lho. Rasanya tidur-tidur malam selama gap year diisi oleh otak saya yang benar-benar membenahi isinya untuk mempersiapkan diri untuk masuk fase dengan tuntutan luar biasa tinggi saat perkuliahan nanti.
Saya mudah move on dari kehidupan mondok
Bagusnya adalah; saya bukan yang tipikal kangenan berat. Karena rumah juga dekat dengan pondok so yeah... ketika dada sesak dan pikiran suntuk, seringkali saya berjalan kaki hanya untuk menatap bangunan dan gerbang pondok, membayangkan siluet diri saya yang dulu masih santri baru berlari dengan wajah panik dihukum sampai jadi kakak pengurus yang menghukum. Sebuah kemajuan yang tidak pernah saya sangka.
Saya bukan yang kangen main sama teman. Lebih ke suasana belajar bersama dan diskusi bersama guru tanpa khawatir lebih akan kekurangan dalam diri dan perasaan tidak pantas itu yang saya rindukan. Tapi, saya tidak mau dikekang dengan formalitas lain jika memutuskan untuk mengabdi di pondok. Jadi, saya ambil resiko ini; tidak mengabdi dan kosong dulu selama setahun.
Dibilang was-was sama masa depan juga nggak, karena saya benar-benar yakin dan berusaha kuat untuk tawakkal dengan ikhtiar gila-gilaan yang sudah saya lakukan. Tapi, untuk bersikap tenang seperti manusia financial freedom sih belum. Soon ya, amiinn..
Hanya saya, rasanya kali ini lebih clueless daripada fase masa kecil, SD, dan mondok. Bukan karena saya melupakan nasehat dan perbuatan baik orang-orang dan orang tua saya, saya bukan manusia yang se-tidak tahu diri itu, saya masih tahu terima kasih, kok.
Mengurus finansial sendiri,
mulai menghadapi keputusan penuh resiko yang tak bisa dihindari,
menyadari bahwa semua orang benar-sebenar-benarnya sibuk dengan kehidupannya masing-masing,
dan saya completely alone again in this journey.
membuat saya banyak berpikir sehingga gerak dan kemajuan menjadi lambat. Kemajuannya selalu aja, tapi tidak selaju yang sudah saya targetkan. Masalahnya, kalau ibarat mesin, saya ini lagi jet lag jadi kalau dipaksa turbo malah rusak nantinya.
So that, I decided to enjoy on my own. Toh,
kita lahir sendirian, dan nanti di kubur juga sendirian.
Ketika perasaan menerima dengan legowo atau penuh kerelaan itu sudah bersemayam di hati, sesuatu perasaan yang sulit dibilang memenuhi hati seperti kegembiraan atau sesak seperti duka cita perlahan merambat. Kecampuradukan ini tidak bisa dilabeli dengan:
"aku sudah ikhlas dengan masa lalu" (karena nggak semuanya sudah saya rela dan maafkan),
"aku bangga dengan diriku sudah sampai di titik ini" (karena seringkali kalau sudah bangga duluan jadinya terlalu euforia dan nggak bagus buat proses perkembangan diri).
Wah, rumit sekali ini.
Pokoknya..
Pada akhirnya saya dan kita semua masih berada di dunia ini. Bernafas dengan baik dan memikirkan apa yang harus dilakukan hari ini.
Jadi, sah-lah lagu BTS - Life Goes On
"yeah.. life goes on.."
Tapi saya nulis ini sambil dengerin My Favourite Clothes - RINI

Komentar
Posting Komentar