Menjadi Orang Depok Di Antara Orang-Orang Sumatra Is Kinda Unique and Challenging BTW
"Kupikir mu awal-awal itu diam karena kaget dengan orang-orang sini yang suaranya besar-besar." Suatu siang, saya dan salah satu teman yang merupakan orang lokal alias orang asli Pekanbaru berbincang sedikti terkait perbedaan budaya yang dibandingkan dengan Depok, tempat asal dan tinggal saya.
"Sebelumnya udah diwanti-wanti kalau orang Sumatra bakal blak-blak-an dan suaranya keras kok. Jadi gak begitu kaget." Jawab saya sambil tersenyum melihat alisnya yang berkerut heran dan sedikit khawatir. "Tapi pas berhadapan langsung, ternyata tetap susah banget sih. Meski bagus gak diem-dieman, kalau semua orang ngomong kadang bingung kita nih harus fokus ke mana, haha."
Ya, tetap saja fakta lapangan dan himbauan dari teman serta kerabat saya yang pernah di Sumatra tidak bisa jadi bekal yang cukup untuk beradaptasi dengan tepat.
Tapi ini tetap jadi pengalaman yang menarik.
"Berarti Depok sepi gitu?" tanyanya lagi.
"Nggak juga. Rame juga. Tapi beda versi aja." Jawab saya sambil melipat tangan dan tersenyum pada beberapa kating yang lewat di hadapan kami. "Gak bisa dipukul rata sih kalau semua orang Depok kayak yang aku maksud; cuma... kalau di pondokku biasanya kalau sudah masuk waktu belajar atau minimal pas guru atau dosen sudah masuk, itu pasti diam mendengarkan dan selalu ada pertanyaan kritis yang diajuin. Diskusi itu jadi hal yang biasa, bukan keren-kerenan atau unjuk siapa yang paling pinter." Jelas saya.
"Woah, Depok ni paten kali, lho." Ujarnya mengapresiasi.
Saya tertawa aja. "Thanks lho. Tapi, aku juga yakin Pekanbaru atau lebih spesifiknya mahasiswa di sini atau di kelas kita punya banyak potensi yang belum keliatan aja. Kan kita belum sebulan, masih adaptasi. Gak semua orang siap untuk bertanya di depan banyak orang apalagi di depan dosen kita yang sekaligus dokter. Semua tetap layak dihargai tapi juga dievaluasi biar gak banyak dampak buruknya." Karena tidak ada mahasiswa seangkatan saya yang asal dari Depok, it means hanya saya sendiri jadi banyak teman-teman yang kalau dengar seusatu tentang Depok langsung nanya ke saya.
"Rumahmu dekat rumah Ayu Ting Ting, Khalidah?" Suatu siang, saya mau ke luar untuk cari makan sebentar. Lalu ada yang tanya begini dan saya merasa ini cukup lucu.
"Kalau 5 km itu kehitung dekat gak?" tanya saya balik. Orang itu langsung tersenyum lebar, kayaknya dia fans Ayu Ting Ting deh.
"Weh, dekat kali itu!" Jawabnya antusias. Saya kira setelahnya bakal dititipin salam buat Ayu Ting Ting, jadi saya memutuskan membalas dengan:
"Tapi Ayu Ting Ting udah pindah ke Jaksel," sambil masang wajah dramatis. Orang itu langsung cemberut seakan kecewa, tapi setelahnya sumringah lagi.
"Owh, kalau Jaksel gaul kalee dong!"
Saya ketawa aja. Lagian saya belum pernah ngobrol sama Ayu Ting Ting meski lewat depan rumahnya beberapa kali pernah, atau lihat dari jauh lah.
Suatu pagi setelah kelas pertama, saya mengajukan sebuah pertanyaan sebelum kelas ditutup. Lalu beberapa orang menghampiri dan bertanya;
"Kok mu bisa sih nanya macam gitu? Kami tak terpikir tanya sama sekali."
Saya mikir sambil merangkai kata, "mm... thanks lho ya. Yang penting sih ada keinginan buat kita nanya. Kadang bukan kita yang gak tahu mau nanya apa, tapi kita udah males duluan. Padahal dari kelas-kelas semalam dosen banyak apresiasi buat mahasiswa yang nanya, kan?"
"Mu ini kritis kali, lho."
Saya jawab, "makasih lho. Alhamdulillah ini kebentuk dari di pondok. Jadi, banyak pihak yang berkontribusi buat membentuk aku yang kayak gini. Dan ini gak instan, banyak kesalahan yang pernah aku buat juga kok. Yang penting kita berani coba dulu."
"Kok mu gak ada logat Depok-nya sih?" Suatu siang saya pernah ditanya kayak gini. Sebagai urang Depok yang sudah hidup belasan tahun di sana saya langsung mikir; iya juga ya.
"Depok gak ada logatnya soalnya." Jawab saya.
Pas saya pastikan ke orang tua saya di grup chat, mereka bilang;
Wah, saya baru tahu ini. Soalnya gak pernah ngomong yang Betawi kental banget buat sehari-hari. Ya bahasa Indonesia normal aja.
Hal yang saya nikmati dalam bersosial di sini adalah orang-orangnya sangat vokal terkait kesan atau ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Meski kerap jadi asbun atau terlalu cerewet, buat saya itu lebih baik dariapda diem-dieman atau silent treatment. Ya, segala metode komunikasi ada kekurangan dan kelebihannya, sih. Tapi semoga apapun itu saya bisa bertahan dan berkembang dengan baik di sini apapun yang terjadi. Amin.



Komentar
Posting Komentar