Strategi Untuk Setidaknya Bertahan Dulu dan Menjalani Prioritas di Perkuliahan (asek udh kayak mahasiswa semester berapa padahal baru 1 hari jadi mahasiswa resmi but it's oke lah ya)
| PKKMB Fakultas di hari ke-2, sumber: dokumentasi pribadi |
Saya bukan yang the best dalam hal ini. Tapi, tulisan ini disusun berdasarkan skill yang didapat dari pengalaman nyata yang sudah saya lalui setidaknya selama 6 tahun hidup besar di pondok bersama gonjang-ganjingnya dalam menghadapi adaptasi kehidupan kuliah FK.
Kasus saya sebenarnya saya cukup rumit: tidak pernah belajar mapel umum dan IPA secara intensif di pondok, hanya curi-curi waktu lalu masuk FK karena mengikuti saran guru pondok dengan pertimbangan minat saya yang tinggi di IPA terutama Biologi. Apakah mudah?
Tentu tidak.
Yang sudah berlatih, SMA umum, medalis OSN, anak PMI saja masih banyak yang kewalahan, apalagi saya yang tidak punya itu semua?
Di FK ini, segalanya tidak ada yang ringan. Banyak materi, blok, modul, dan ujian yang akan dihadapi. Itu akan menjadi bagian dari hidup kita. Tapi, apakah saya takut menjalani itu semua?
Takut lah. Faktor yang sudah disebutkan jadi salah satu alasan kuat. Tapi jujur aja lebih banyak exited-nya sih sejauh ini, hehe. Cuma berharap nggak keliatan bego banget depan dosen nanti.
Meski baru beberapa hari di kampus dan baru 22 jam menjadi mahasiswa FK resmi. Sejatinya yang membuat segalanya terasa semakin berat dan menakutkan adalah karean kekhawatiran kita akan sesuatu yang belum terjadi, dan bayang-bayang dari pikiran sendiri.
Apakah itu bisa dihilangkan?
Tidak. Itu akan selalu ada. Itu naluri alami manusia untuk bertahan hidup; memprediksi kejadian ke depan berdasarkan pola yang ia amati dan pahami.
Berarti jadi berat dong?
Ya memang berat. Tanpa masuk FK pun selalu ada "berat" yang lain. Jadi, tidak ada pilihan apapun buat tidak mengalami sesuatu yang berat.
Bagaimana saya bertahan sejauh ini dan ke depannya nanti?
Menjadi diri saya yang berusaha memahami keadaan, bertanya saat tidak tahu, tidak banyak pakai topeng yang tidak perlu, tidak menjilat dosen dan kakak kelas, beribadah sebagaimana di pondok dulu, mengingat nasehat yang orang-orang pernah berikan pada saya--lalu mengerahkan segalanya dengan maskimalnya saya.
Aapakah bagus hasilnya?
Ya tidak selalu. Tapi,
seringkali "bagus" yang saya kira biasa selalu diapresiasi betul oleh teman-teman yang warga lokal di sini. Itu adalah hal yang harus disyukuri. Benar-benar lebih banyak yang bisa kita syukuri daripada yang dikeluhkan kalau kita membicarakan tentang anugerah dan nikmat dari Allah SWT.
Gimana kalo...
Kalo gini nanti...
Takutnya nanti gak bisa...
Banyak kok pikiran dalam diri saya yang seperti itu. Tapi, ketimbang menghapusnya penuh, saya berusaha berdamai dan mengenali, lalu negosiasi bagaiman tidak terlalu terganggu dengan hal tersebut.
"Semoga ini jadi peluang yang membuat saya bisa perform lebih baik, kekhawatiran ini bukan bentuk kelemahan dan ketakutan, tapi antipiasi yang kadangkala sedikit berlebihan, tinggal dikendalikan."
Kalau bisa, milikilah teman yang bisa menghibur dan membesarkan hati kita saat suntuk
Alhamdulillah saya punya di sini, yang mana sebagian besarnya mereka yang approach saya dulu.
See? Kita akan dihadapkan dengan kebaikan dan orang-orang yang benar kalau niat kita benar-benar murni ingin belajar dan menjemput kebaikan di tanah rantau. Kalau ada hal buruk yang ditemukan berarti kita salah dan gagal dong? Ya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Allah menciptakan sesuatu berpasang-pasangan, ada baik ya ada juga buruk lah.
Sejauh ini, hanya itu yang bisa saya ungkapkan.
Jalannya ke depan tidak mudah dong?
Lah, yang namanya berkembang dan menjadi lebih baik tidak bisa tanpa proses evaluasi dan melakukan kesalahan. Enjoy aja. Kita santai aja dulu, gak ada apa-apa, rileks aja.

Komentar
Posting Komentar