Santri's Life: Tentang Beban Sosial Yang Tak Mau Kita Pilih, Tapi Selalu Ada Aja (heran deh)
| sumber: pinterest |
Ini adalah satu pemikiran yang saya yakin semua santri pasti pernah memikirkan ini.
Yakni ketika kita ikut dihukum karena teman kita melakukan kesalahan/pelanggaran dengan alasan "kan kalian teman, kenapa tidak saling mengingatkan?" atau "kalian itu satu kesatuan, satu salah semua bertanggung jawab".
Lalu benak kita bertanya-tanya dengan penuh amarah;
"Kenapa aku harus menanggung dampak atas sesuatu yang bukan salahku?"
Satu sisi, ini bisa menguatkan solidaritas. Ini bisa membangun kesadaran untuk mengingatkan satu sama lain, lalu menguatkan tali silaturrahim dan ukhuwah sesamanya hingga membentuk satu kelas atau bahkan satu angkatan yang kompak, bersinergi baik, dan tidak mudah digoyangkan oleh badai.
Ini adalah salah satu resiko terbesar yang harus ditanggung santri dari semua resiko yang ada. Menjalani hal ini tidak selalu enak dan banyak beratnya. Karena saya pernah mondok selama 6 tahun, saya amat mengerti lika-liku bertahan hidup dengan sistem ini.
Bukan berarti dengan ini saya ingin menghujat dan merendahkan. Semua sistem dan metode memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tapi dengan ini saya ingin (mungkin sedikit, ya) memberikan validasi untuk orang yang pernah atau tengah merasakan ini tanpa melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangi berdasarkan pandangan saya.
Hal ini nampak sederhana pada awalnya
Saat menjadi santri baru, mode bertahan hidup sedang gencar-gencarnya; bersama teman seringkali adalah sebuah kewajiban karena kita masih malu dengan kakak kelas dan para guru. Segala hal dikomunikasikan dan dari situ kita mendapat kekuatan untuk memahami lingkungan yang baru dengan teman-teman seperjuangan yang belum ter-disctract dengan apapun. Karena tujuannya masih sama; bertahan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.
Hingga pesantren menjadi lingkungan yang familiar, bukan lagi asing dan baru.
Sudah ada keberanian untuk bermain dengan kakak kelas, makan bersama dan main bola serta olahraga bersama. Ini benar-benar normal dan bahkan banyak disenangi oleh santri baru karena dengan di-notice-nya dia oleh kakak kelas membuat self-worth-nya tersentuh. Hal ini juga membuka peluang untuk menunjukkan potensinya dan teman-teman seangkatannya, unjuk gigi lah, bisa dibilang begitu.
Lalu, waktu berjalan. Bulan dan tahun berganti.
Fase bertahan hidup berubah menjadi fase pengembangan diri.
Bukan berarti kebersamaan dengan teman seangkatan mulai renggang di sini. Tapi pada fase ini, kehidupan di pondok lebih dari sekedar bermain saat waktu istirahat atau jajan di kantin saat senggang. Melainkan tentang meningkatkan nilai dan mengembangkan diri dengan potensi atau pelajaran yang disukai. Mungkin juga ada yang memanfaatkan komunitas dan ekstrakurikuler di pondoknya.
Menjadi pengurus dan panitia menuntut kekompakan antar teman atau tak jarang antar angkatan untuk kolaborasi. Benar-benar tahun yang penuh agenda, tuntutan, dan target. Minat dan kecenderungan mulai terlihat dan tidak mungkin 100% sama. Keberagaman ini membentuk simfoni yang saling berdampingan dan saling melengkapi, yang seharusnya bisa indah dan menjadi kenangan manis.
Tapi, hidup ini tidak selalu mulus.
Saat masa-masa itu sedang dijalani, karakter mulai terlihat karena kita sudah berada di lingkungan yang kita kenal serta familiar; banyak hal yang mengungkapkan sisi sebenarnya dari seorang santri ataupun teman-temannya.
Dan ini tidak bisa ditahan dan dihindari.
Akan tetapi, lingkungan "solidaritas" dan "kebersamaan" ini terkadang membuat situasi menjadi rumit.
Kita sudah paham mekanisme mengingatkan teman kita untuk tidak melanggar aturan dengan tidak memberitahunya secara langsung/frontal, karena itu adalah kunci ukhuwah/kebersamaan ini tetap ada tanpa adanya slek/konflik berat. Tapi, sikap teman yang tetap melanggar aturan itu adalah sesuatu yang di luar kendali kita.
Kita hanya bisa mengingatkan. Mungkin di beberapa kesempatan bisa mengendalikan si teman ini, tapi peluangnya tak selalu besar dan seringkali rasanya menembus batas yang sudah diterapkan selama beberapa tahun (kayak too much aja rasanya gitu lho, ngerti gak sih? Saya harap kamu ngerti yaa). Temannya yang pasti seorang manusia, pasti memiliki otak dan logika untuk tahu mana yang harus dilakukan mana yang tidak, bukan keharusan kita untuk menjaganya seperti bodyguard 24/7, lagipula kita ada tuntutan dan kesibukan lain yang harus dilakukan.
Tapi ketika kenyataannya adalah teman kita yang melakukan pelanggaran,
dan itu diketahui pihak pondok,
lalu ditindak.
Yang kena tidak hanya dia. Tapi kita juga sebagai teman-temannya.
Kalau dulu saat masih santri baru, biasanya bersama-sama dijemur di lapangan saat siang, atau lari keliling lapangan dengan telanjang kaki dan dengan beragam metode lainnya. Di fase pengembangan diri yang sudah tidak se-"bersama" saat masih jadi santri baru, sudah ada batas yang ditetapkan, seringkali kita juga tidak tahu kenapa dia masih melakukan sebuah pelanggaran padahal kita semua tahu (dan dia juga tahu) itu adalah hal yang dilarang dan akan mendapat hukuman yang setimpal.
Bentuk "kena"-nya itu tidak se-sederhana hukuman fisik. Rasanya ada harga diri yang tercoreng karena ada anggapan bahwa kita sebagai teman tidak bertanggung jawab atas dirinya, apalagi kalau kita adalah teman dekatnya. Belum lagi dianggap rendah/buruk oleh angkatan lain atau guru-guru lainnya. Perasaan campur aduk itu terlalu kompleks itu dijelaskan dengan sederhana.
Lalu dampaknya berentet ke hal lain; angkatan/kelas kita dianggap tidak bisa dipercaya, anak-anak di dalamnya di-cap anak nakal, tidak mendapat penghargaan yang seharusnya bisa didapat, dll.
Tidak mungkin kita menjadi se-kaku itu, kan? Kita juga manusia yang ingin bermain dan berjuang bersama, bukan robot yang menjadi satpam atau mengingatkan benar-salah saja.
Tapi, ketika kepercayaan dengan membiarkan batasan/privasi yang sudah ditetapkan itu malah dijadikan ruang/kesempatan untuk melanggar aturan sehingga berimbas kepada banyak pihak itulah yang membuatnya menjadi beban sosial berat yang seringkali dipikul oleh teman-teman sekelas/sekamar/seangkatan, bukan hanya si pelaku.
Waktu, energi, emosi, tenaga, pikiran yang habis karena menanggung dampak dari sikap sembrono ini bukan hal yang sederhana dan bisa selesai hanya dengan "maaf, saya janji tidak akan mengulangi lagi", atau dengan dihukum menulis 1000x istighfar, dan dijemur di depan seluruh santri.
Bagaimana semua keringat dan air mata kemarahan dan kekecewaan yang tidak bisa diganti dengan apapun, ia terukir menjadi sebuah kenangan di dalam benak dan pikiran, yang meski bisa diabaikan, tidak perlu dimasukkan ke hati terlalu dalam, ingat buat cerita receh saat jadi alumni/reuni aja, dan lain-lainnya. Itu tetap hal yang menyakitkan dan tidak menyenangkan dialami apalagi diingatkan.
Tapi, waktu tetap berjalan
Sang santri dan teman-temannya bertumbuh dewasa dan akan lulus untuk menapaki jejak hidup yang baru.
Ke-individualis-an inilah yang sangat tricky.
Kita tidak boleh terlalu banyak ikut campur, tapi ketika ada sesuatu terjadi dan seseorang sudah terlihat bermasalah apalagi itu terlihat sangat jelas dan mulai membuat banyak pihak bingung, melanggar aturan pondok, dan banyak hal lainnya, kita sebagai teman seperjuangan tidak tahu harus melakukan apa dan apa yang sebenarnya terjadi serta solusi tepat yang bisa mengatasinya langsung.
Karena tidak semuanya se-"saling" saat dulu masih santri baru. Semua orang sudah punya pondasi dan pemikirannya masing-masing. Nanti kalau kita bertanya "ada apa?" dianggap ikut campur atau makin menjauh, tapi kalau dibiarkan, tidak ada lagi yang bisa menjangkaunya selain kita; teman seperjuangannya.
Tapi kita tidak tahu apa-apa yang terjadi dalam benaknya, kecamuk pikirannya, trauma apa yang ia simpan selama ini, atau banyak misteri ngejelimet lainnya yang luar biasa rumit.
Dan di saat yang sama, kita juga punya kecamuk, kekhawatiran, dan trauma yang sama dalam bentuk yang berbeda. Kita semua punya masalah dan kekhawatiran tentang masa depan dan hal-hal yang tidak bisa kita bayangkan akan hadapi ke depannya.
| sumber: pinterest |
Beban sosial itu; dengan kedok "teman seperjuangan", "teman sebangku", "teman sekelas", "teman sekamar", dan lain-lainnya benar-benar berat ketika sudah memenuhi hati yang senantiasa dituntut ikhlas, husnuzhan, atau prasangka "mungkin aku kurang baik dalam hal ini dan ini". Keterlibatan kita yang terpaksa oleh keadaan itu mengorbankan banyak hal yang sebenarnya bisa untuk hal lain menjadi keniscayaan yang terkadang mengikhlaskan hal tersebut karena tidak ada jalan lain.
Mungkin, Beginilah Hidup Sebenarnya
Sampai detik ini, saya pribadi masih ingat hal-hal serupa dari pengalaman di pondok. Bukan berarti ingin merendahkan atau membuka sisi gelap pondok dan teman-teman saya dulu.
Baut saya, ini adalah sebuah aturan yang berlaku pula di kehidupan nyata.
Misal; generasi sandwich yang harus membiayai orang tua karena orang tuanya tidak mandiri secara finansial di usia lanjut dan itu terjadi karena keabaiannya di masa mudanya. Bukankah itu sama?
Maka, apa yang harus dilakukan atas siklus ini? Sesuatu yang meski sudah kita upayakan agar tidak terjadi, eh malah terjadi.
Hal ini berat dan menyakitkan. Sampai sekarang tak jarang rasa sakit dan pedih itu masih saya rasakan.
"Harusnya kalau aku nggak terlibat drama konflik dengan si ini waktu itu, aku bisa memaksimalkan potensi dan nilai pelajaranku sehingga jadi lebih pintar daripada aku yang sekarang!"
"Harusnya kalau aku fokus belajar tanpa ada ngurusin teman berantem, aku bisa dapat predikat sempurna!"
dan banyak kecamuk pikiran lainnya.
Nasehat; "ikhlasin aja lah, Oi" seringkali membuat saya marah besar. Karena peristiwa-peristiwa sama lalu itu benar-benar menyakitkan buat saya, menekan potensi dalam diri saya yang seharusnya bisa lebih tapi malah tersalurkan untuk urusan yang malah membuat saya stuck. Apalagi keadaan waktu itu juga tidak membaik.
Tapi satu hal yang pasti, lebih daripada kepastian yang sudah saya sebutkan tadi.
Bahwa Allah SWT akan membalas keteguhan dan kesabaran kita menahan beban dampak dari perlakuan teman kita itu, dengan semua keringat dan air mata kekecewaan dan kemarahan yang pernah mengalir di kasur kita sepanjang malam. Dengan catatan;
kita sebagai hamba senantiasa berusaha mensyukuri nikmat-Nya.
Bersyukur atas hal kecil meski terkadang tidak ada hubungannya dengan hal yang kita kesali. Dari hal-hal kecil itu, kita akan menyadari bahwa masih banyak hal baik dan membahagiakan yang kita punya. Dan itu jauh lebih besar daripada yang sudah kita perhitungkan.
Setelahnya meyakini bahwa kita adalah manusia; makhluk yang lemah dan butuh Allah SWT sebagai sandaran. Lalu memanfaatkan segala nikmat yang telah diberikan untuk menjadi jauh lebih baik daripada kita yang sekarang banyak mengutuk masa lalu.
Ampunan-Nya selalu ada. Tergantung kita mau menjemputnya atau tidak.
Kenangan buruk atau menyakitkan atas beban sosial saat mondok sebagai santri itu tetap ada, dan itu tetap menyakitkan dan mengesalkan. Tergantung kita mau menanggapinya serius dan emosional atau tidak.
Semoga dengan ini, kamu sebagai pembaca dapat menyadari bahwa naik-turun emosi, kekecewaan, rasa bersalah, marah, itu adalah sesuatu yang wajar. Itu hal yang harus dilewati.
Kalau kita tidak menghabiskan masa itu, bisa saja kita tidak akan se-bijak atau se-luwes sekarang. Istilahnya nih, masa bocil dan drama masa kecil itu sudah selesai, jadi sekarang, di fase mandiri dan tidak se-"bersama" saat jadi santri baru waktu itu kita sudah siap menghadapi beragam gonjang-ganjing hidup lainnya. Ya di fase dewasa ini.
Saya tidak bilang segalanya mudah. Tapi segalanya akan berlalu.
Seiring berjalannya waktu, luka batin dan kekecewaan berat atas waktu yang habis dengan mengurus drama menanggung kesalahan dan dampak dari teman yang melanggar aturan atas keegoisan mereka akan diganti dengan hal yang lebih baik. Percayalah. Hal itu bisa berupa kebaikan besar, atau kebaikan kecil yang kita rasakan setiap hari.
Tidak ada yang tahu dengan pasti kecuali Yang Maha Tahu.
Maka, sebagai seorang hamba, jadilah hamba yang baik.
Kalau sekarang kamu masih jadi santri, jadilah santri yang baik.
Kalau sekarang kamu siswa atau mahasiswa, jadilan siswa atau mahasiswa yang baik.
Seiring semuanya akan berlalu, saya selalu mendo'akan semua manusia di muka bumi agar selalu ruang meski kecil, di sudut hari mereka agar bis amenyembuhkan luka batin yang disebabkan perlakuan orang lain di masa lalunya.
Semuanya akan jadi lebih baik, setidaknya lebih baik daripada kemarin. Jadi, lakukan saja tugasmu, sesuai peranmu sekarang, sampai selesai.

What a great contemplation Oi, keep it up girll!!!
BalasHapusAgak ribet bahasanya tp kalau dibaca pelan2 paham kok hehe
BalasHapus