Big Sister
"Farros kan sepupu aku, kak."
Itu adalah kalimat pertama yang saya lontarkan padanya di satu pagi, bulan Mei tahun 2020. Waktu itu jam makan siang, tapi entah kenapa cuacanya cerah dan anginnya sejuk. Saya masih berdiri mengenakan sandal dan bersandar di tiang saung asrama lama (saya secara khusus harus berterima kasih kepada Farros, karena hubungan kita, obrolan jadi bisa cair dan gak hanya tatap-tatapan canggung kalau ketemu).
"Oh iya?" itu kalimat pertamanya yang dilontarkan pada saya sebelum akhirnya kami seangkatan dan menghabiskan tahun ketiga dan keempat di pondok bersama sebagai teman sekelas.
Saya menunjuk mangkuk putih bermotif hitam yang sudah diisi tongkol pedas, "kak, tolong dong mangkok itu," berpinta padanya untuk mengambil jatah makan siang.
"Gak pake nasi?" tanyanya. Saya menggeleng, lalu membawa mangkuk itu ke kamar dan makan sendirian.
Saya tidak ingat momen-momen krusial di awal pertemuan kita hingga menjadi teman sekelas yang cair. Hanya yang sudah diceritakan di atas yang saya ingat. Tapi, buat saya kehadirannya sebagai figur kakak di antara saya dan ketiga teman lainnya sangat berkesan dan penting buat kami.
Azra namanya. Azra Rabbania Zulkarnain. Dia dua tahun lebih tua daripada saya. Kalau saya masuk dari tahun pertama, dia masuk di tahun kedua, tapi baru sekelas dengan saya di tahun ketiga dan keempat karena dia murid dari kelas matrikulasi. Ya, ibaratnya dia masuk untuk SMA, kalau saya masuk memang untuk SMP-SMA.
Pertamakali saya menyadari kehadirannya adalah saat dia tertawa terbahak-bahak di kamar santri baru. Saya sedang mengisi minum di dispenser asrama, mendengar ketawanya tersebut seketika terbayang; "nih orang kayaknya seru, receh, dan santai deh" dan memang kenyataannya begitu. Lebih chill daripada yang saya bayangkan, tapi juga dewasa di saat yang sama. Itulah yang membuatnya mengesankan.
"Izin dulu gak sih?" tanya saya pada Hira setelah suatu kelas di pagi hari sekaligus pertamakali Azra ikut pelajaran di kelas bersama angkatan kita. Hira mengerutkan kening tak mengerti. "Tanya lah ke dia, boleh gak kita panggil pake nama aja?"
Sebelum itu, saya dan teman lain memanggilnya dengan sebutan "kak Azra", karena sekarang sudah sekelas, beberapa dari kami memanggilnya nama saja. Cuma buat saya, harus ada izin dari orang yang kita panggil untuk memastikan kenyamanannya. Mana saya kan juga lebih muda.
Kami berlima sedang berjalan ke lapangan atas. Lalu saya menghampirinya dan menanyakan hal tersebut. Dia menoleh sambil agak mendongak agar bisa menatap wajah saya, tersenyum sambil mengerutkan kening dan menjawab;
"boleh aja."
Saya bernafas lega dan sejak saat itu mulai memanggilnya "Azra". Sampai hari ini. Dia memanggil saya dengan panggilan "i", kependekan dari "Oi". Udah pendek, makin pendek. Tapi saya suka aja dipanggil kayak gitu.
"Tahu gak kenapa kamu tinggi, i?" tanyanya suatu pagi saat kami berdua sedang bercermin. Saya mengerutkan kening tak mengerti sambil masih sibuk membenarkan pad jilbab.
"Karena kalau kamu pendek kayak aku, kamu sok imut. Kalau aku tinggi kayak kamu, nanti aku sombong."
Jujur saya speechless dan gak tau mau bereaksi seperti apa. Jadi saya hanya bisa mengerutkan kening dan nyengir bingung.
"Emang gak bisa tinggi sekaligus imut?" tanya saya iseng.
Dia mengerutkan kening tak terima. "Satu-satu lah." Dia berdiri mendekat ke saya sambil menegakkan badan. Ritual yang sering sekali hampir semua santri akhwat lakukan kalau bertemu dengan saya; membandingkan tinggi badan. Waktu itu ujung kepalanya tepat di ujung dagu saya. Melihat itu dari pantulan cermin saya terkekeh kecil sembari dia memasang wajah kesal karena tinggi badannya gak naik-naik. Menurut klaim dia, sih.
Kami hanya berjumlah 5 orang di satu angkatan, dan di tahun keempat kita semua pisah kamar karena diamanahi jadi pengurus santri/mudabbirah. So, kalau jam kosong, agar tidak gabut di kamar, kami suka random nyamperin satu sama lain. Kalau saya sering menghampiri Azra di kamarnya biasanya karena; mau ngadem karena kipas di kamarnya paling turbo, makan bareng, membajak novel yang lagi ia baca sampai dia kesal dan mengusir saya keluar kamar, atau sekedar menemaninya yang sedang membaca buku materi UTBK sambil berekspresi cemas-gelisah.
Kadang, di masa-masa itu saya sedih karena tidak bisa memahami masalah yang sedang ia jalani, keresahan memikirkan hidup setelah lulus SMA untuk masuk ke PTN, dan hal sejenis lainnya. Bukannya karena saya mental blocking, tapi memang ada perbedaan yang hanya bisa dipahami jika seseorang seumuran.
Tapi, yang saya tahu Azra itu adalah orang yang hebat. Kok agak aneh ya nulis ini? Ya, pokoknya maksudnya gitu.
Dia adalah satu-satunya santri akhwat di angkatannya. Bersosial di tempat baru tanpa adanya teman seangkatan bagi saya adalah hambatan besar dan berat, tapi Azra menunjukkan pada saya bahwa menjadi diri sendiri, humble, apa adanya, ramah, akan membuat ia mudah diterima bahkan dibutuhkan dan dicari-cari oleh orang. Saya melihat langsung bagaimana ia bergaul dengan santri lain yang seumuran dengannya. Notabenenya adalah mereka lebih senior dari Azra karena masuk pondok lebih dulu, tapi itu tidak menjadi hambatan sama sekali. Bahkan membuatnya lebih luwes dan menikmati masa mondok.
"Ya, soalnya kalau seumuran tuh kan banyak persamaan tentang planning dan hal-hal yang gak relate dengan yang lebih tua atau muda. Tapi aku gak underestimate kamu ya, i." Terangnya pada saya satu hari saat kami sedang makan jajanan di depan kantin. "Kamu pasti ngerti." Saya mendengarkan dan merekam obrolan dan momen itu dengan sangat baik. Mengagumi dan berusaha menerapkan nilai bersosial seperti itu pada diri saya.
It seems weird or cringe, tapi ada salah satu momen yang membuat saya agak gemas dengan Azra meskipun dia 2 tahun lebih tua. Selain sikapnya yang tidak jaim dan selera humornya yang receh sehingga membuatnya mudah tertawa, tingkah Azra terkadang suka nggak bisa ditebak dan random.
Random-nya tuh kayak... gimana ya jelasinnya? Dibilang duality juga nggak segitunya. Tapi contohnya gini (btw ini adalah momen yang lucu dan gemas juga buat saya, haha (jra, kalo kamu baca ini jangan kegelian ya, soalnya aku juga geli nulisnya nih)):
Saat itu kami menginjak tahun ke-4 mondok hari Rabu pagi. Jam pelajaran kedua kosong, tapi kami masih ada jam ketiga (jam 11-zhuhur), waktu itu jam 9 pagi. Setelah menghabiskan tahu goreng dan nasi goreng di tempat makan ustadz dan dapur, saya merasa harus review materi yang akan dipelajari di jam selanjutnya. Tapi menuju tempat duduk saya, sudah ada Azra dan Chamilla lebih dulu yang lagi ketawa-ketawa gak jelas dari saya masih di luar kelas.
"Iiihh!!! Aku mau meluk orang deh!" Saya ingat waktu itu Azra teriak kayak gitu setelah dia dan Chamilla berpose konyol di cermin kelas. Langsung dia lari ke saya dan memeluk saya erat.
Pelukan yang sangat canggung.
Saya nge-freeze. Jujur aja, saya bukan tipikal yang physical touch, bahkan bisa dibilang nggak suka. Tapi, karena dia tiba-tiba dia kayak gitu ya saya gak enak kalau langsung dorong dia dong.
"Tuh kannn meluk Oi tuh enak banget. Tingginya tuh pas." Pokoknya dia ngelantur banyak omongan sambil goyang-goyangin badan besar dan tinggi saya ini, dan karena posisi mulutnya ada di ketek saya which is jauh dari telinga saya, ya kurang kedengeran deh dia ngomong apa. Saya cuma bisa diem kayak patung.
"Thanks ya, i." Kalimat singkat itu dia ucapkan setelah pelukan dilepas. Saya ingat, dari kemarin wajah dia murung dan datar kayak banyak pikiran. Lalu, setelah pelukan dia seharian jadi banyak ketawa dan inisiatif ngajak saya makan siang dan malam sepiring berdua. Rasanya senang bisa bikin seorang Azra stres-nya berkurang.
"Tuh, Oi tingginya pas banget buat dipeluk!" kata Azra lagi ke Chamilla.
"Itu mah kan karena kamu pendek, Jra." Kompor Chamilla. Setelahnya mereka berdua adu mulut lagi. Saya tidak ingin terlibat jadi duduk dan review materi di tempat duduk.
Azra suka mengomentari saya kalau dalam hal pelukan ke sesama cewek, karena saya canggung banget. "I, hidup jangan kaku-kaku amat. Jangan belajar mulu."
Percayalah, saya memang sering canggung, tapi saya nggak kaku kayak yang Azra bilang, kok. Kalau tentang "jangan belajar mulu" ya... saya memang suka belajar dari dulu, meski lebih pintar Azra justru karena itu sih saya tambah-tambah belajar terus atau nilai saya akan menyedihkan.
That's how Oi survive in this world, guys. Belajar adalah cara bertahan dan berkembang.
Saat wisuda PRISTAC/setingkat SMA di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Azra menghampiri saya sebelum ia pamit pulang dan entah kapan kami bisa bertemu lagi (sampai sekarang pun kami belum pernah bertemu lagi). Ia menepuk pundak kanan saya sambil mengatakan;
"kuat-kuat ya i. 2 tahun lagi."
Maksud dia, jenjang setelah PRISTAC di pondok kan Atco yang durasinya 2 tahun, makanya dia bilang gitu.
"Aku duluan ya nih, titip buat Hira dong. Tadi aku pinjem kaos kaki dia, eh apa Chamilla, ya? Pokoknya titip, ya." Ia memberikan buntelan kaus kaki ke tangan saya, melambaikan tangan;
Lalu kami berpisah.
Kaus kakinya akhirnya saya putuskan untuk beri ke Hira, karena cuma dia yang bisa bedain mana kaus kaki Chamilla, mana yang punya dia.

Komentar
Posting Komentar